THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 06 November 2011

- Al-Auza’i berkata: Manusia yang memliki kemuliaan di tengah masyarakat kami adalah pribadi yang berilmu.


Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarakatuhu…
Bismillaahirrohmaanirrohiim …

Beberapa Wasiat Bagi Penuntut Ilmu

Segala puji hanya bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada baginda Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam, dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla yang Maha Esa dan tiada sekutu bagi -Nya dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi awa sallam adalah hamba dan utusan -Nya.. Amma Ba’du:
Ini adalah beberapa wasiat yang aku peruntukkan bagi diriku dan para saudaraku, semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan manfaat yang besar dengan wasiat ini, dan semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla melimpahkan ilmu yang bermanfaat dan amal shaleh bagi kita semua.

Wasiat pertama: Tetap semangat dalam menuntut ilmu syara’.

Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakAllah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla yang dapat menerima pelajaran. QS. Al-Zumar: 9

“...niscaya Allah Shubhanahu wa ta’alla akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Shubhanahu wa ta’alla Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. QS. Al-Mujadilah: 11.

Diriwyatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam berkata: Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla suatu kebaikan maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan memberikan kepadanya kepahaman dalam agama”.
Sebagian ahlul ilmi berkata: Orang yang tidak diberikan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla kepahaman di dalam agama berarti Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak menghendaki kebaikan baginya”. Diriwayatkan oleh Al-Darimi dengan sanad yang baik dari Abi Darda’ bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Keutamaan orang yang berilmu atas orang yang ahli ibadah seperti kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi dan para nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya mereka hanya mewariskan ilmu, maka barangsiapa yang mengambilnya maka sungguh dia telah mengambil bagian yang sangat besar”.

Al-Auza’i berkata: Manusia yang memliki kemuliaan di tengah masyarakat kami adalah pribadi yang berilmu, dan orang selain mereka tidak ada artinya”. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimhullah berkata: Kebutuhan manusia akan ilmu lebih besar dari kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Dan para ulama adalah orang yang tetap komitment dengan perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla hingga hari kiamat. Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab shahihnya dari Mu’awiyah dan Tsauban bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Akan senantiasa ada sekelompok dari umatku ini yang selalu komitment dengan kebenaran, tidak akan memudharatkan mereka orang yang mengacau mereka sehingga datang keputusan Allah Shubhanahu wa ta’alla dan mereka tetap komitmen atas perkara tersebut”. Di dalam sebuah riwyat disebutkan: Mereka tetap komitment pada perintah -Nya”.

Imam Ahmad bin Hambal berkata: Kalau bukan ahli hadits maka aku tidak mengetahui siapakah orang selain mereka?”.

Dan Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam telah membritahukan bahwa di akhir zaman kelak ilmu itu akan terangkat, dan kebodohan menyebar dan terangkatnya ilmu di tandai dengan matinya orang yang membawanya.
Diriwayatkan oleh Al-bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan mengambilnya secara langsung dari mereka, namun -Dia akan mencabut ilmu itu dengan dicabutnya nyawa para ulama, sehingga apabila orang alim sudah tidak tersisa maka manusia menunjuk pemimpin yang bodoh, dan mereka ditanya tentang suatu masalah maka mereka sesat dan menyesatkan”.

Dalam keadaan seperti ini maka mengajarkan dan belajar ilmu agama menjadi wajib dan pasti. Dan hendaklah disadari bahwa ilmu yang paling tinggi adalah mempelajari kitab Allah Shubhanahu wa ta’alla, Al-Qur’anul Karim, maka hendaklah kita bersemangat untuk menghapal, memahami, merenungkan dan beramal dengannya. Begitu juga dengan mempelajari sunnah Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam dan memperdalamnya. Hendaklah kita mengambil ilmu itu dari ahlinya, mereka adalah para ulama salaf yang shaleh, dan para ulama yang diberikan petunjuk oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga kita tidak terjebak ke dalam fatwa yang menyesatkan dan hawa nafsu yang membinasakan.

Wasiat kedua: Berdakwah kepada Allah Azza Wa Jalla.

Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah Shubhanahu wa ta’alla, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". QS. Yusuf: 108.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”. QS. Fushilat: 33

Di dalam shahih Muslim dari Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bahwa berkata kepada Ali radhiyallahu anhu: “Sungguh Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan petunjuk bagi seseorang karena usahamu maka itu lebih baik bagimu dari onta merah”.

Banyak orang yang salah dalam memahami hadits ini, di mana seseorang berdakwah dan berani berfatwa padahal dirinya adalah orang yang paing bodoh, terkadang mereka berdalil dengan sebuah hadits dari Rasulullah Salallahu’alaihi alaihi wa sallam “Sampaikanlah tentang diriku walau hanya satu ayat”.

Dia tidak mengetahui bahwa menyampaikan satu ayat dari firman Allah Shubhanahu wa ta’alla dan hadits Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam tidak boleh diwujdukan kecuali setelah mengetahui perkataan para ulama tafsir dan para pensyarah hadits berdasarkan pada metode yang benar yang diperbolehkan oleh para ulama dan dijelaskan bagi penuntut ilmu.

Berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tugas para Nabi dan Rasul utusan Allah Shubhanahu wa ta’alla semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mencurahkan kesejahteraan kepada mereka. Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam berkata kepada Mu’adz bin Jabal pada saat beliau diutus kepada penduduk Yaman untuk berdakwah atas perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla: Sesungguhnya engkau akan mendatangi kaum dari ahli kitab, maka serulah mereka kepada persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah Shubhanahu wa ta’alla dan sesungguhnya aku adalah utusan -Nya, dan jika mereka mentaatimu maka beritahukanlah mereka bahwa Allah Shubhanahu wa ta’alla telah menwajibkan kepada mereka shalat lima waktu....... sehingga akhir hadits”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abdullah bin Umar bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sampaikanlah tentang diriku walau hanya satu ayat”.


Ibnul Qoyyim rahimullah berkata: Jika berdakwah atas perintah Allah Shubhanahu wa ta’alla adalah tingkatan tugas yang paling agung dan utama bagi seorang hamba, maka dia tidak bisa terwujud kecuali dengan penguasaan ilmu yang tinggi, bahkan kesempurnaan dakwah membutuhkan kecukupan ilmu yang tinggi. Cukuplah ini sebagai kemuliaan ilmu dan Allah Shubhanahu wa ta’alla memberikan karunia -Nya kepada siapapun yang dikehendaki -Nya”.

Syekh Abdul Aziz rahimhullah berkata: Yang wajib bagi mereka yang mampu dari kalangan para ulama, penguasa kaum muslimin, para da’i adalah berdakwah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla sehingga dirinya sampai pada tingktan orang yang menyampaikan dakwah kepada seluruh alam di seluruh penjuru dunia ini. Penyampaian dakwah inilah yang diperintahkan oleh Allah Shubhanahu wa ta’alla di dalam firman -Nya.

قال الله تعالى : â يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ á [ المائدة: 67 ]
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat -Nya. QS. Al-Ma’idah: 67.

Rasul berkewajiban untuk menyampaikan, semua Rasul semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla mencurahkan shalawat dan salam kepada mereka juga memiliki tugas untuk menyampaikan dan begitu juga dengan para pengikut mereka, para Rasul hendaklah mereka menyamapaikan dakwah ini…”.

Wasiat ketiga: Menjaga waktu. Kalau kita perhatikan banyak para pemuda yang tidak menghiraukan bagaimana cara memanfaatkan waktunya, memanfaatkan waktu muda dan masa aktif. Engkau melihat mereka tenggelam dalam tidur yang lelap berjam-jam yang tidak sesuai kebutuhkan, sementara yang lain menyia-nyiakan waktunya untuk membaca lembaran-lembaran Koran dalam waktu yang lama sementara yang lain, mondar-mandir mengunjungi temannya dan lain sebagainya.

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Abi Barzah Al-Aslami bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Salallhu’alaihi sallam bersabda: Tidak akan melangkah dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dirinya akan ditanya di sisi Tuhannya tentang lima hal: tentang umurnya, apakah dia habiskan, masa mudanya, apakah dimanfaatkan, tentang hartanya dari manakah didapatkannya dan kemanakah disalurkan dan tentang ilmunya apakah yang diperbuat dengannya”.

Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrok dari Ibnu Abbas bahwa Nabi Muhammad Salallhu’alaihi wa sallam bersabda: Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara masa mudamu sebelum datang masa tuamu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, hidupmu sebelum matimu, hidupmu sebelum matimu dan waktu sehatmu sebelum sakitmu serta masa kayamu sebelum datangnya masa kemiskinanmu”.
Sorang penyair berkata:

Waktu adalah sesuatu yang paling berharga untuk dijaga
Namun aku melihat, dia paling mudah engkau sia-siakan
Wasiat keempat: Berakhlak yang baik.

Dan katakanlah kepada hamba-hamba -Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. QS. Al-Isro’: 53

Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi di dalam kitab sunannya dari Abi Darda’ bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Tidak ada sesuatu apapun yang lebih berat pada timbangan amal seorang hamba pada hari kiamat daripada akhlak yang baik, sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla membenci orang yang suka berkata kotor lagi keji”.

Ibnul Mubarok berkata: Akhlak yang baik terwujud dengan wajah berseri-seri, berbuat yang makruf, menahan diri mengganggu orang lain dan bersabar atas kekasaran orang lain terhadap dirinya”.

Dengan prilaku inilah Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam berwasiat kepada para shahabatnya di dalam hadits Abi Dzar dan Mu’adz bin Jabal radhillahu anhuma di dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallhu’allaihi wa sallam: Bertqwalah kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla di manapun kamu berada, dan balaslah perbautan buruk dengan kebaikan niscaya dia akan menghapuskannya dan berakhlaklah terhadap orang lain dengan akhlak yang mulia”.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata: Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam memadukan antara bertqwa kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla dengan akhlak yang baik, sebab dengan taqwa maka hubungan antara seorang hamba dengan tuhannya akan harmonis dan akhlak yang baik juga akan menciptakan keharmonisan hubungan antara seorang hamba dengan makhluk Allah Shubhanahu wa ta’alla yang lain”.

Dan keimanan seorang hamba tidak akan sempurna sampai dirinya diberikan taufiq kepada akhlak yang baik. Diriwayatkan oleh Al-Turmudzi dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: Orang mu’min yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik prilakunya terhadap keluarganya”.

Dan Nabi Muhammad Salallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang paling baik akhlaknya dan barangsiapa yang ingin mendapat petunjuk kepada akhlak yang baik maka tauladanilah akhlak Beliau.

Dari Anas bin Malik Rhadiyallahu’anhu, dia berkata: Aku telah berkhidmah kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun dan aku belum pernah mendengar beliau berkata cih, dan beliau tidak pernah berkata: Kenapa kamu perbuat ini” pada perkara yang telah terlanjur aku lakukan dan tidak pernah pula aku mendengar beliau berkata: Kenapa kamu tidak mengerjakan ini?. Terhadap perkara yang terlanjur aku tinggalkan”.
Wasiat kelima: Berpegang teguh dengan agama Allah Shubhanahu wa ta’alla.


Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini ajal.QS. Al-Hijir: 99.

Maksudnya adalah kematian. Allah Shubhanahu wa ta’alla berfirman tentang Nabi Isa Alihis salam:
“...dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan menunaikan) zakat selama aku hidup”. QS. Maryam: 31.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Aisyah radhillahu anha bahwa Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam bersabda: Wahai Tuhan yang Membolak balikkan hati teguhkanlah hatiku pada agama -Mu dan ketaatan kepada -Mu”.

Dan telah disebutkan di dalam hadits Nabi Muhammad Shalallhu’alaihi wa sallam yang menjelaskan bahwa orang-orang yang berpegang teguh pada agama Allah Shubhanahu wa ta’alla di akhir zaman, mereka akan hidup terasing, namun dengan itu mereka mendapat pahala seperti yang didapatkan oleh para shahabat Rasulullah Shhalallhu’alaihi wa sallam pada saat Islam masih asing, pahala sebesar itu mereka dapatkan karena kesabaran mereka atas katerasingan tersebut.


Diriawayatkan oleh Muslim di dalam kitab shahihnya dari Ibnu Umar Rhadiyallahu ‘anhum bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda: Islam itu muncul dalam keadaan terasing, dan akan kembali asing, maka beruntunglah orang yang asing”.

Dan dalam hadits yang lain disebutkan bahwa mereka adalah manusia yang shaleh di tengah-tengah manusia yang buruk, orang yang berseberangan dengan mereka lebih banyak daripada orang yang mentaati mereka”.
Dan disbutkan oleh Nabi Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam bahwa orang yang berpegang teguh dengan agama mereka di akhir zaman kelak sama seperti orang yang memegang bara api dan mereka mendapat pahala sama seperti pahala limapuluh para shahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berbuat ibadah yang sama.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunannya dari Abi Tsa’labah Al-Khusyani Radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shalallahu’alihi wa sallam bersabda pada saat disebutkan tentang amar ma’ruf nahi mungkar: Sesungguhnya hari-hari di belakang kalian adalah hari-hari yang harus dihadapi dengan kesabaran, dan bersabar pada hari itu sama seperti orang yang menggenggam bara api, orang berbuat amal ibadah pada saat itu akan mendapat pahala sama seperti pahala lima puluh orang lelaki yang berbuat ibadah seperti ibadah yang mereka kerjakan. Dan yang lain memberikan tambahan kepadaku berkata: Wahai Rasulullah apakah pahala lima puluh dari kalangan mereka?. Rasulullah Shalallhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Pahala limapuluh orang dari kalian”.


Maka aku berwasiat kepada diriku dan kepada seluruh sudaraku untuk teguh di dalam tuntunan yang dipegang oleh Rasulullah Shalallhu’alaihi wa sallam dan bersabar atas yang demikian itu.

قال الله تعالى : â وَالْعَصْرِ 1 إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ 2 إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ 3 á [ العصر: 1- 3]
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. QS. Al-Ashr: 1-3.

قال الله تعالى : â قال تعالى: وَاتَّبِعْ مَا يُوحَى إِلَيْكَ وَاصْبِرْ حَتَّىَ يَحْكُمَ اللّهُ وَهُوَ خَيْرُ الْحَاكِمِينَ á [ يونس: 109]

Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah Shubhanahu wa ta’alla Shubhanahu wa ta’alla memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.QS. Yunus: 109.

قال الله تعالى : â وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ á [ القصص: 83]
Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. QS. Al-Qoshos: 83.

Tidak diragukan lagi bahwa seorang muslim pada masa sekarang ini dihadapkan dengan berbagai godaan syhawat dan kelezatan fana dunia yang begitu dahsyat. Namun barangsiapa yang memohon pertolongan kepada Allah Shubhanahu wa ta’alla niscaya -Dia akan menolongnya dan barangsiapa yang bersabar maka Allah Shubhanahu wa ta’alla akan menjadikannya sabar.

قال الله تعالى : â وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ á [ العنكبوت: 69]

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah Shubhanahu wa ta’alla benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. QS. Al-Ankabut: 69.

Semoga Allah Shubhanahu wa ta’alla menjadikan kita termasuk golongan mereka. Segala puji bagi Allah Shubhanahu wa ta’alla Tuhan semesta alam, semoga shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad dan kepada keluarga, shahabat serta seluruh pengikut beliau.

islamhouse.com


Rabu, 14 September 2011

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit /*


“A-úthu billáhi minash shaytánir rajeem. Bismilláhir rahmánir raheem

Keutamaan Menjenguk Orang Sakit

Mengunjungi dan membesuk orang sakit merupakan kewajiban setiap muslim, utamanya orang yang sangat jelas hubungannya dengan dirinya, seperti kerabat dekat, tetangga, saudara senasab, sahabat dan yang semisalnya. Menjenguk orang sakit adalah di antara amal shalih yang paling utama yang dapat mendekatkan kita kepada Alloh Subhannahu wa Ta'ala, kepada ampunan, rahmat dan SorgaNya.


Mengunjungi orang sakit merupakan perbuatan mulia, di dalamnya terdapat keutamaan yang sangat agung, pahala yang sangat besar dan ia adalah salah satu hak setiap muslim terhadap muslim lainnya. (HR: Muslim).

Rasululloh shallAllohu 'alaihi wasallam bersabda, yang artinya: "Apabila seorang laki-laki menjenguk saudara muslimnya (yang sedang sakit), maka (seakan-akan) dia berjalan sambil memetik buah-buahan Sorga sehingga dia duduk, apabila sudah duduk maka diturunkan kepadanya rahmat dengan deras. Apabila menjenguknya di pagi hari maka tujuh puluh ribu malaikat mendo'akannya agar mendapat rahmat hingga waktu sore tiba. Apabila menjenguknya di sore hari, maka tujuh puluh ribu malaikat mendo'akannya agar diberi rahmat hingga waktu pagi tiba." (HR: At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad dengan sanad shahih).

Terakhir, hendaknya yang membesuk mendo'akan si sakit: "Tidak mengapa, semoga sakitmu ini membersihkanmu dari dosa-dosa, Insya Alloh." (HR: Al-Bukhari).

(sumber Rujukan: Al-Hadiqatul Yani'ah minal 'Ulumin Nafi'ah, Syaikh Ibrahim bin Jarullah Al-Jarullah)

http://assunnah-qatar.com/index.php?option=com_content&task=view&id=381&Itemid=46

Minggu, 27 Juli 2008

-Asmaul Husna-


ALLAH memiliki nama-nama yang baik yang disebut dengan Asmaul Husna.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa al-Asma al-Husna ini jumlahnya ada 99, karena ALLAH menyukai bilangan yang ganjil.

Sesungguhnya ALLAH mempunyai sembilan puluh sembilan nama, yaitu seratus kurang satu. Barangsiapa menghitungnya, niscaya ia masuk surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Sembilan puluh sembilan nama tsb menggambarkan betapa baiknya ALLAH. Nama-nama dalam Asmaul Husna ini, ALLAH sendirilah yang menciptakannya.

Dia-lah ALLAH yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang Membentuk Rupa, yang Mempunyai Nama-Nama yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Hasyr: 24)

Sebutlah nama-nama ALLAH, dalam setiap zikir dan doa kita. Jika kita memohon diberi petunjuk, sebutlah nama Al-Hâdi (Maha Pemberi Petunjuk). Jika kita mohon diberi sifat kasih sayang, sebutlah nama Ar-Rahmân (Maha Pengasih). Semoga doa kita akan semakin makbul.
Anjuran untuk menggunakan Asmaul Husna dalam berzikir dan berdoa, diterangkan oleh ALLAH SWT dalam Al-Quran.

Hanya milik ALLAH asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. Al-A'râf: 180)

Asmaul Husna hanya milik ALLAH SWT. Manusia sebagai makhluk-Nya hanya dapat memahami, mempelajari, dan meniru kandungan makna dari nama yang baik tsb dalam kehidupan sehari-hari.

NoNamaArtiAntara lain
terdapat dalam
1 ar-Rahmaan Yang Maha Pemurah Al-Faatihah: 3
2 ar-Rahiim Yang Maha Pengasih Al-Faatihah: 3
3 al-Malik Maha Raja Al-Mu'minuun: 11
4 al-Qudduus Maha Suci Al-Jumu'ah: 1
5 as-Salaam Maha Sejahtera Al-Hasyr: 23
6 al-Mu'min Yang Maha Terpercaya Al-Hasyr: 23
7 al-Muhaimin Yang Maha Memelihara Al-Hasyr: 23
8 al-'Aziiz Yang Maha Perkasa Aali 'Imran: 62
9 al-Jabbaar Yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari Al-Hasyr: 23
10 al-Mutakabbir Yang Memiliki Kebesaran Al-Hasyr: 23
11 al-Khaaliq Yang Maha Pencipta Ar-Ra'd: 16
12 al-Baari' Yang Mengadakan dari Tiada Al-Hasyr: 24
13 al-Mushawwir Yang Membuat Bentuk Al-Hasyr: 24
14 al-Ghaffaar Yang Maha Pengampun Al-Baqarah: 235
15 al-Qahhaar Yang Maha Perkasa Ar-Ra'd: 16
16 al-Wahhaab Yang Maha Pemberi Aali 'Imran: 8
17 ar-Razzaq Yang Maha Pemberi Rezki Adz-Dzaariyaat: 58
18 al-Fattaah Yang Maha Membuka (Hati) Sabaa': 26
19 al-'Aliim Yang Maha Mengetahui Al-Baqarah: 29
20 al-Qaabidh Yang Maha Pengendali Al-Baqarah: 245
21 al-Baasith Yang Maha Melapangkan Ar-Ra'd: 26
22 al-Khaafidh Yang Merendahkan Hadits at-Tirmizi
23 ar-Raafi' Yang Meninggikan Al-An'aam: 83
24 al-Mu'izz Yang Maha Terhormat Aali 'Imran: 26
25 al-Mudzdzill Yang Maha Menghinakan Aali 'Imran: 26
26 as-Samii' Yang Maha Mendengar Al-Israa': 1
27 al-Bashiir Yang Maha Melihat Al-Hadiid: 4
28 al-Hakam Yang Memutuskan Hukum Al-Mu'min: 48
29 al-'Adl Yang Maha Adil Al-An'aam: 115
30 al-Lathiif Yang Maha Lembut Al-Mulk: 14
31 al-Khabiir Yang Maha Mengetahui Al-An'aam: 18
32 al-Haliim Yang Maha Penyantun Al-Baqarah: 235
33 al-'Azhiim Yang Maha Agung Asy-Syuura: 4
34 al-Ghafuur Yang Maha Pengampun Aali 'Imran: 89
35 asy-Syakuur Yang Menerima Syukur Faathir: 30
36 al-'Aliyy Yang Maha Tinggi An-Nisaa': 34
37 al-Kabiir Yang Maha Besar Ar-Ra'd: 9
38 al-Hafiizh Yang Maha Penjaga Huud: 57
39 al-Muqiit Yang Maha Pemelihara An-Nisaa': 85
40 al-Hasiib Yang Maha Pembuat Perhitungan An-Nisaa': 6
41 al-Jaliil Yang Maha Luhur Ar-Rahmaan: 27
42 al-Kariim Yang Maha Mulia An-Naml: 40
43 ar-Raqiib Yang Maha Mengawasi Al-Ahzaab: 52
44 al-Mujiib Yang Maha Mengabulkan Huud: 61
45 al-Waasi' Yang Maha Luas Al-Baqarah: 268
46 al-Hakiim Yang Maha Bijaksana Al-An'aam: 18
47 al-Waduud Yang Maha Mengasihi Al-Buruuj: 14
48 al-Majiid Yang Maha Mulia Al-Buruuj: 15
49 al-Baa'its Yang Membangkitkan Yaasiin: 52
50 asy-Syahiid Yang Maha Menyaksikan Al-Maaidah: 117
51 al-Haqq Yang Maha Benar Thaahaa: 114
52 al-Wakiil Yang Maha Pemelihara Al-An'aam: 102
53 al-Qawiyy Yang Maha Kuat Al-Anfaal: 52
54 al-Matiin Yang Maha Kokoh Adz-Dzaariyaat: 58
55 al-Waliyy Yang Maha Melindungi An-Nisaa': 45
56 al-Hamiid Yang Maha Terpuji An-Nisaa': 131
57 al-Muhshi Yang Maha Menghitung Maryam: 94
58 al-Mubdi' Yang Maha Memulai Al-Buruuj: 13
59 al-Mu'id Yang Maha Mengembalikan Ar-Ruum: 27
60 al-Muhyi Yang Maha Menghidupkan Ar-Ruum: 50
61 al-Mumiit Yang Maha Mematikan Al-Mu'min: 68
62 al-Hayy Yang Maha Hidup Thaahaa: 111
63 al-Qayyuum Yang Maha Mandiri Thaahaa: 11
64 al-Waajid Yang Maha Menemukan Adh-Dhuhaa: 6-8
65 al-Maajid Yang Maha Mulia Huud: 73
66 al-Waahid Yang Maha Tunggal Al-Baqarah: 133
67 al-Ahad Yang Maha Esa Al-Ikhlaas: 1
68 ash-Shamad Yang Maha Dibutuhkan Al-Ikhlaas: 2
69 al-Qaadir Yang Maha Kuat Al-Baqarah: 20
70 al-Muqtadir Yang Maha Berkuasa Al-Qamar: 42
71 al-Muqqadim Yang Maha Mendahulukan Qaaf: 28
72 al-Mu'akhkhir Yang Maha Mengakhirkan Ibraahiim: 42
73 al-Awwal Yang Maha Permulaan Al-Hadiid: 3
74 al-Aakhir Yang Maha Akhir Al-Hadiid: 3
75 azh-Zhaahir Yang Maha Nyata Al-Hadiid: 3
76 al-Baathin Yang Maha Gaib Al-Hadiid: 3
77 al-Waalii Yang Maha Memerintah Ar-Ra'd: 11
78 al-Muta'aalii Yang Maha Tinggi Ar-Ra'd: 9
79 al-Barr Yang Maha Dermawan Ath-Thuur: 28
80 at-Tawwaab Yang Maha Penerima Taubat An-Nisaa': 16
81 al-Muntaqim Yang Maha Penyiksa As-Sajdah: 22
82 al-'Afuww Yang Maha Pemaaf An-Nisaa': 99
83 ar-Ra'uuf Yang Maha Pengasih Al-Baqarah: 207
84 Maalik al-Mulk Yang Mempunyai Kerajaan Aali 'Imran: 26
85 Zuljalaal wa al-'Ikraam Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan Ar-Rahmaan: 27
86 al-Muqsith Yang Maha Adil An-Nuur: 47
87 al-Jaami' Yang Maha Pengumpul Sabaa': 26
88 al-Ghaniyy Yang Maha Kaya Al-Baqarah: 267
89 al-Mughnii Yang Maha Mencukupi An-Najm: 48
90 al-Maani' Yang Maha Mencegah Hadits at-Tirmizi
91 adh-Dhaarr Yang Maha Pemberi Derita Al-An'aam: 17
92 an-Naafi' Yang Maha Pemberi Manfaat Al-Fath: 11
93 an-Nuur Yang Maha Bercahaya An-Nuur: 35
94 al-Haadii Yang Maha Pemberi Petunjuk Al-Hajj: 54
95 al-Badii' Yang Maha Pencipta Al-Baqarah: 117
96 al-Baaqii Yang Maha Kekal Thaahaa: 73
97 al-Waarits Yang Maha Mewarisi Al-Hijr: 23
98 ar-Rasyiid Yang Maha Pandai Al-Jin: 10
99 ash-Shabuur Yang Maha Sabar Hadits at-Tirmizi

http://islam.elvini.net/allah.cgi?asmaulhusna

Minggu, 20 Juli 2008

--INDAHNYA KEYAKINAN DALAM ISLAM-- oleh Ustadz Muhammad Arifin Badri


Bagian ini adalah bagian yang paling banyak diperhatikan dan ditekankan dalam syari’at Al Qur’an. Bahkan permasalahan ini telah disatukan dengan segala urusan setiap muslim dan dijadikan sebagai tujuan dari segala gerak dan langkah kehidupan mereka. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Az Dzariyat: 56)


Dan pada ayat lain Allah berfirman,
“Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu sesuatu yang diyakini (ajal/kematian).” (QS. Al Hijr: 99)


Inilah akidah Al Qur’an, yaitu beribadah hanya kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan segala macam bentuk peribadatan kepada selain-Nya, baik peribadatan dengan pengagungan, kecintaan, rasa takut, harapan, ketaatan, pengorbanan, atau lainnya. Allah Ta’ala berfirman,
“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS. An Nisa’: 36)


Akidah Al Qur’an juga mengajarkan agar umat Islam menjadi kuat dan perkasa bak gunung yang menjulang tinggi ke langit, tak bergeming karena terpaan angin atau badai. Akidah Al Qur’an mengajarkan mereka untuk senantiasa yakin dan beriman bahwa segala yang ada di langit dan bumi adalah milik Allah, tiada yang dapat menghalang-halangi rezeki yang telah Allah tentukan untuk hamba-Nya dan tiada yang dapat memberi rezeki kepada orang yang tidak Allah Ta’ala beri.
“Apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya.” (QS. Al Baqarah: 116)


Dan pada ayat lain Allah berfirman,
“Kepunyaan-Nya-lah semua yang ada langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah.” (QS. Thoha: 6)

Dengan keyakinan dan iman semacam ini, setiap muslim tidak akan pernah menggantungkan kebutuhan atau harapannya kepada selain Allah, baik itu kepada malaikat, atau nabi atau wali atau dukun atau ajimat. Tiada yang mampu memberi atau mencegah rezeki, keuntungan, pertolongan atau lainnya selain Allah Ta’ala:
“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Fathir: 2)


Pada ayat lain Allah berfirman,
“Katakanlah, ‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (kehendak) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu.’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah.” (QS. Al Ahzab: 17)


Dan bukan hanya menanamkan keimanan dan tawakal yang kokoh kepada Allah semata, akan tetapi akidah Al Qur’an juga benar-benar telah meruntuhlantahkan segala keterkaitan, ketergantungan, mistik, takhayul dan segala bentuk kepercayaan kaum musyrikin kepada sesembahan selain Allah, sampai-sampai digambarkan bahwa sesembahan -atau apapun namanya- selain Allah tidak berdaya apapun bila ada seekor lalat yang merampas makanan mereka. Mereka tidak akan pernah mampu menyelamatkan makanan yang telah terlanjur dirampas oleh lalat, seekor mahluk lemah dan hina.


“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al Hajj: 73-74)


Akidah Al Qur’an juga mengajarkan bahwa sumber kelemahan dan kegagalan umat manusia ialah karena mereka jauh dari pertolongan dan bimbingan Allah, semakin mereka menjauhkan diri dari Allah dan semakin menggantungkan harapannya kepada selain-Nya maka semakin rusak dan hancurlah harapan dan kepentingannya,
“Dan bahwasannya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (QS. Al Jin: 6)


Akidah Al Qur’an juga mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa memiliki keyakinan yang kokoh bahwa tidaklah ada di dunia ini yang mampu mengetahui hal yang gaib selain Allah. Sehingga dengan keimanan semacam ini umat islam terlindungi dari kejahatan para dukun, tukang ramal dan yang serupa.
“Katakanlah, ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui kapankah mereka akan dibangkitkan.” (QS. Fathir: 65)


Dengan akidah Al Qur’an ini, seseorang akan memiliki kejiwaan yang tangguh, pemberani dan bersemangat tinggi, pantang mundur dan tak kenal putus asa dalam menjalankan roda-roda kehidupan dan mengarungi samudra kenyataan.


Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah mengajarkan kepada saudara sepupunya akidah Al Qur’an di atas dengan sabdanya,
“Jagalah (syari’at) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syari’at) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa dihadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat taqdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Ahmad, dan At Tirmizi)

Jumat, 18 Juli 2008

TEGAKKANLAH RUMAH TANGGA MUSLIM oleh Mustaffa Masyhur

Memperbaiki diri sendiri dan menyeru orang lain kepada Allah, merupakan dua kewajipan asasi di atas jalan dakwah wajib kepada setiap muslim lelaki dan wanita.


Di samping dua kewajipan itu timbul lagi satu kewajipan yang tidak kurang pentingnya. Iaitu menegakkan rumahtangga muslim. Individu muslim itu adalah seorang lelaki aqidah yang wajib dipersiapkan untuk menjadi Muslim yang sejati yang menjadi contoh Islam yang sahih dan teladan yang patut di ikuti.

Kita sangat memerlukan rumahtangga muslim yang menjadi contoh sebagai tiang yang kuat di dalam pembangunan masyarakat Islam. Usrah muslim, keluarga muslim mempunyai peranan yang penting di dalam kekuatan dan kepaduan masyarakat ataupun perpecahan dan kemusnahannya. Rumahtangga itu adalah merupakan pangkuan atau sarang bagi tunas-tunas baharu yang dididik dan dibentuk di masa pembentukan dan persediaan. Rumahtangga lah yang bertanggungjawab mencetak dan membentuk keteguhan peribadi anak-anak yang akan mencorakkan hidup mereka, benarlah Rasulullah s.a.w. bersabda:

“Tiap anak itu dilahirkan di atas fitrahnya-kejadian yang suci dan ibu bapanya lah yang menjadikan Yahudi atau menjadikannya Kristian ataupun menjadikannya Majusi”

Hadis Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan pembangunan rumahtangga, tidak dapat dibicarakan hanya dengan satu makalah atau dua makalah sahaja akan tetapi perlulah kita merujuk kepada kitab-kitab dan karangan-karangan yang telah mengupas perkara yang penting itu Cukuplah di sini kita menerangkan sepintas lalu serba sedikit mengenainya supaya kita mendapat faedah daripadanya.

A: Pemilihan:

Saudara muslim dan saudari muslimah yang mahu memperbaiki diri dan menyeru orang lain kepada Allah, wajib lah ke atas keduanya, masing-masing memilih pasangannya. Putera Islam mencari puteri Islam untuk menjadi isterinya yang salihah. Puteri Islam mencari putera Islam untuk menjadikan suaminya yang salih, sebagai kongsi hidup suami isteri.

Dari awal-awal lagi hendaklah mereka ini membangunkan keluarga muslim yang diasaskan di atas dasar takwa. Saudara muslim yang sejati wajib mencari puteri Islam yang sejati dan memilih yang beragama, yang memahami tugas dan risalahnya di dalam hidup ini, menjadikan pasangan hidupnya sebaik-baik penolong di atas jalan dakwah, sentiasa mengingatkannya apabila dia lupa sentiasa memberi perangsang dan tidak menghalanginya, memelihara dirinya di waktu ghaibnya sekalipun bagaimana lamanya dan mendidik serta membentuk anak-anaknya menurut bentuk Islam yang sebenar-benarnya.

Demikian juga puteri Islam yang sejati, tidak wajar dan tidak patut menerima sebarang jejaka untuk menjadi pasangan hidupnya kecuali seorang muslim yang sejati yang menjadi pendukung dakwah Islam. Iaitu seorang penganut aqidah yang sahih yang bertakwa kepada Allah. Si isterinya pula dapat menolongnya untuk taat setia kepada Allah dan mencapai keredhaan Allah. Dengan cara yang demikian kita telah berjaya membangunkan sebuah keluarga Islam yang akan menjadi markas dakwah dan jihad Islam. Rasulullah s.a.w. telah mengarahkan kita kepada yang demikian dengan sabda baginda:

“Wanita itu dinikahi kerana empat perkara: kerana hartanya, kerana tarafnya, keturunannya dan pangkatnya, kerana kecantikannya dan kerana agamanya. Maka hendaklah kamu mengambil wanita yang beragama supaya kamu berbahagia".

Oleh kerana itu Rasulullah (s.a.w.), tidak mengakui hak wali yang menikahkan puterinya dengan seorang lelaki yang tidak di sukai oleh puterinya. Ini memberi peluang kepada puteri Islam untuk memilih suami KAtoi)àyang salih. ( didalam keadaan yang menepati sayrat-syarat nya--

B: Beriltizam Dengan Batas-Batas Islam:

Kita mahukan supaya hukum-hukum Islam dan adab-adabnya mampu mengawal dan menguasai setiap tahap dan peringkat pembangunan rumahtangga muslim. Sama ada dari peringkat pinangan, akad nikah, mempersiapkan rumahtangga sepasang suami isteri, masa pengantin baharu atau berbulan madu mestilah jauh dari segala adat lapuk, pusaka usang jahiliah yang rosak.

Sama ada jahiliah lama atau baru, yang bertentangan dengan syariat Allah Taala atau pun yang menjadi rintangan di jalan perkahwinan yang kadang-kadang menghalang langsung untuk terlaksananya perkahwinan. Mengapakah tidak di laksanakan akad-nikah itu di Mesjid? Di dalam udara yang bersih dan luas yang jauh dari segala sikap menunjuk-nunjuk dan adat-adat buruk? Berbelanja berlebih-lebihan dan boros yang bertentangan dengan syariat Islam? Cadangan itu adalah wajar.

Akad nikah di dalam Mesjid tidak di gemari oleh manusia sebagaimana dulu mereka tidak menggemari fesyen pakaian Islam. Tetapi kalau kita bersungguh-sungguh mendesak dan bertegas untuk melangsungkan juga akad nikah itu di dalam mesjid, lama kelamaan ia akan menjadi perkara yang di sukai oleh manusia dan akan menjadi perkara biasa. Sebagaimana fesyen pakaian Islam menjadi perkara lumrah dan di sukai oleh manusia. Sesungguhnya itu lah pertentangan di antara kemuliaan dan kehinaan.

Kalau kita berpegang teguh dengan kemuliaan dan adab-adab Islam, kita akan berjaya menegakkan dan menanamkan keperibadian Islam yang kita cita-citakan ke atas manusia.

C: Kebahagiaan Rumahtangga Yang Di Cita-Citakan:

Apabila telah selesai pemilihan yang berasaskan agama telah sempurnalah langkah-langkah yang menuju ke alam perkahwinan sesuai dengan ajaran Islam.

Mulalah kita membangunkan rumahtangga muslim di atas asas yang teguh yang akan merealisasikan kemantapan, ketenangan dan kebahagiaan yang sejati yang selama ini dicari-cari oleh beberapa banyak keluarga pada zaman ini. Kebahagiaan itu bukan dari luar diri, tidak pula dapat dicari dengan harta, tempat kediaman, pakaian dan dengan segala perhiasan rumahtangga.

Tetapi kebahagiaan itu diperolehi dari dalam diri sendiri, dari perasaan takwa kepada Allah, kerana Allah lah yang mengurniakan kebahagiaan, yang memberi mawaddah dan rahmah cinta dan kasih sayang di antara suami isteri. Benarlah Allah yang Maha Agung yang telah berfirman:

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikannya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (Ar-Rum: 21)

Kita tidak memandang kebahagiaan itu di dalam harta yang banyak, akan tetapi orang yang bertakwa itulah orang yang berbahagia.

D: Perkahwinan Itu Ibadat:

Risalah dan tugas kita di dalam hidup ini ialah beribadat kepada Allah Taala. Jadi kita mestilah berusaha menjadikan segala urusan hidup kita sebagai ibadat kepada Allah Taala. Kita jadikan segenap kehidupan hidup sebagai alat untuk kita menghampirkan diri kepada Allah. Kita pergunakan hidup kita dengan segala kemudahan yang ada untuk menolong kita beribadat kepada Allah.

Amal dan nikah kahwin dan mendidik anak-anak dan lain-lain lagi yang merangkumi segala kegiatan hidup kita semuanya itu merupakan ibadat kepada Allah, untuk menghampirkan diri kepada Allah, selagi dibuat kerana mengharap keredhaan Allah dan menjauhi apa yang dimurkai Allah.

Oleh itu putera puteri Islam, mestilah memandang urusan perkahwinan mereka sebagai ibadah mereka kepada Allah apabila diurus menurut hukum Allah. Kedua-dua pihak mengharap keredhaan dan ganjaran Allah. Oleh kerana itu kedua belah pihak mestilah mengetahui ajaran-ajaran dan adab-adab Islam, hak-hak dan kewajipan suami-isteri rumahtangga dan keluarga, bersungguh-sungguh melaksanakan tugas masing-masing dan beriltizam dengan adab-adab itu. Tolong menolong ke arah kebaikan, menuju takwa dan ke arah taat kepada Allah di dalam pergaulan mereka. Harga menghargai, hormat-menghormati dan kasih sayang di antara keduanya Semuanya itu mesti di atur menurut syariat Islam. Benarlah Rasulullah s.a.w tatkala bersabda yang bermaksud:

" Semuga Allah memberi rahmat kurnia kepada lelaki yang bangun di tengah malam lalu dia sembahyang dan membangunkan isterinya, maka sekiranya enggan juga bangun untuk bersembahyang, dia merenjiskan air ke mukanya. Semuga Allah memberi rahmat kurnia kepada wanita yang bangun di tengah malam lalu bersembahyang dan membangunkan suaminya. Maka jika dia enggan, dia merenjiskan air ke mukanya."
(Riwayat Abu Daud dengan Isnad yang sahih)

E: Perkahwinan Itu Saling Percaya Mempercayai:

Apabila telah wujud suasana saling percaya mempercayai, cinta mencintai, di antara suami isteri, lahirlah kebahagiaan dan kepuasan jiwa di dalam rumahtangga mereka. Rumahtangga mereka menjadi rumahtangga muslim yang bahagia dalam kebahagiaan yang sejati selagi ianya diatur menurut peraturan syariat Islam. Hapuslah segala prasangka hilanglah segala keraguan. Tidak ada lagi kata mengata, tuduh menuduh dan ke pura-puraan.

Kebahagiaan yang sedemikian rupa tidak akan wujud kecuali di bawah naungan takwa kepada Allah dan mencintai Allah di waktu terang-terangan dan rahsia di waktu ghaib dan waktu syahadah. Lantaran itu tenteramlah jiwa suami dan ia berpuas hati kepada isterinya dan yakinlah ia bahawa isterinya hanyalah untuk dirinya sendiri sahaja, yang memelihara diri walaupun beberapa lamanya ia terpisah dari isterinya. Demikian juga sikap isterinya terhadap suaminya dibaluti dengan sepenuh kepercayaan itu. Di dalam suasana bahagia yang demikian, syaitan dari bangsa jin dan manusia tidak mempunyai jalan untuk mengganggu dan menggoda keduanya.

F: Perkahwinan Sebagai Syarikat Yang Dipimpin Oleh Suami:

Apabila kehidupan rumahtangga suami isteri dibangunkan di atas dasar kerjasama, di atas syura', tolong menolong, cinta mencintai, di bawah pimpinan suami sebagai pihak yang bertanggungjawab, yang mempunyai kata dan kuasa pemutus. Inilah yang mendorong dan menolong melahirkan kemantapan, keteguhan, kerukunan dan kebahagiaan rumahtangga dan keluarga yang selama ini diimpikan dan diidamkan oleh manusia di seluruh dunia. jika masih terdapat kepincangan di dalam pertimbangan ini, maka tidak akan wujud satu kemantapan dan kebahagiaan. Benarlah Allah Taala di dalam firmanNya:

`Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajipannya menurut cara yang maaruf akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya". (Al-Baqarah : 228)

" Kaum lelaki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (lelaki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan kerana mereka (lelaki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka". (An-Nissa': 34)

Lantaran itu sempurnalah pentadbiran urusan rumahtangga dan pertimbangannya di dalam suasana penuh kerjasama, tanggungjawab dan syura di dalam batas-batas ajaran Islam.

Tidak lagi wujud keborosan dan kebakhilan kerana semuanya berada di dalam udara Qana'ah (berpuas hati dengan apa yang ada), redha dan yakin bahawa dunia ini bukanlah negara Janatunna'im. Lihatlah rumahtangga Rasulullah s.a.w kadang-kadang berlalu sebulan demi sebulan, pernah dapurnya tidak berasap kerana tidak ada bahan makanan yang dapat dimasak. Walaupun demikian susahnya, rumahtangga Rasulullah s.a.w tetap menjadi rumahtangga yang paling bahagia yang tidak ada tolok bandingnya himgga ke hari ini.

G: Perkahwinan Adalah Tanggungjawab Dan Amanah

Suami isteri mestilah menyedari dan merasai bahawa mereka memikul amanah dan tanggungjawab. Tiap-tiap orang dari kamu adalah pemimpin, dan tiap-tiap pemimpin bertanggungjawab terhadap rakyatnya. Maka hendaklah kamu bertakwa kepada Allah di dalam perkara yang dipertanggungjawabkan dan diamanahkan kepada kamu. Benarlah Allah yang berfirman:

'Hai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (At Tahrim : 6)

Rasulullah s.a.w bersabda:

“ Orang yang paling baik di kalangan kamu adalah yang paling baik kepada ahlinya dan akulah yang paling baik di kalangan kamu terhadap ahlinya".

Kita sentiasa memerlukan pertimbangan yang waras demi pemeliharaan itu, sebagai contoh, kita biasa memberi perhatian yang berlebihan apabila salah seorang dari anggota keluarga kita jatuh sakit. Tetapi perhatian yang sewajarnya tidak diberikan terhadap salah seorang anggota keluarga yang mencuaikan hak Allah ataupun menyalahi ajaran Islam padahal itulah yang paling utama diperhatikan dan diubati.

H: Rumahtangga Muslim Merupakan Risalah:

Sebagaimana kita menghendaki bentuk yang benar dan hidup bagi Islam dari seorang muslim yang benar aqidahnya, yang benar ibadatnya, yang benar akhlaknya, yang benar sikap dan yang benar segala tindak tanduk dan perkataannya, demikian juga kita menghendaki rumahtangga muslim itu supaya menjadi pusat perlaksanaan segenap ajaran Islam di dalam hidup berkeluarga dengan perlaksanaan yang selamat sejahtera dan teliti.

Kita ingin melihat suami muslim yang memikul tanggungjawabnya terhadap rumahtangganya menurut ketentuan Islam. Kita mahu melihat bapa muslim yang memelihara anak-anaknya dengan adab-adab Islam, memberi kefahaman Islam yang sejati kepada mereka dan mengawasi mereka di segala peringkat hidup mereka. Kita hendak melihat isteri yang muslimah yang menjadikan rumahtangga sebagai taman sari yang memuaskan dan menggembirakan suaminya.,

Di dalamnya terdapat hiburan dan keberkatan jauh dari kepayahan dan penat lelah perjuangan dan menolong suaminya mentaati Allah Ta'aala. Alangkah indah dan hebatnya kata-kata yang diucapkan oleh seorang isteri kepada suaminya tatkala dia keluar dari rumahnya waktu pagi:

" Bertaqwalah kepada Allah di dalam urusan kami dan janganlah kekanda memberi kami makanan kecuali yang halal dan baik-baik sahaja".

Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim ini, ibu muslim yang memelihara anak-anaknya dan membentuk mereka menurut bentuk Islam kerana dialah yang sentiasa berdamping dengan mereka. Inilah risalah, amanah dan tugas para wanita dan isteri yang paling penting yang selama ini cuba dihapuskan oleh musuh-musuh kemanusiaan. Mereka cuba menyelewengkan fakta-fakta ini dari para isteri dengan berbagai-bagai pembohongan dan penipuan dengan tujuan untuk merobohkan bangunan masyarakat.

Kita ingin melihat di dalam rumahtangga muslim itu, putera puteri Islam yang sejati yang memperhambakan diri mereka kepada. Tuhan. Mereka taat setia kepada Allah, berbuat baik dan berjasa kepada ibu bapa. Mereka bergaul dengan sahabat-sahabat mereka menurut adab-adab Islam dan tidak lahir dari mulut mereka sepatah perkataan dan sebarang perbuatan yang bertentangan dengan Islam.

Kita mengingini rumahtangga muslim yang memelihara hubungan silaturahim, yang sentiasa mengambil berat urusan kerabat dan menyempurnakan hak-hak mereka. Kita hendak melihat rumahtangga dan keluarga muslim menjadi satu bentuk yang ulung di mana Islam telah terpahat kukuh di dalam diri mereka. Mereka bergaul baik dengan khadam mereka, di mana khadam mereka makan apa yang mereka makan dan berpakaian seperti apa yang mereka pakai dan tidak membebankan sesuatu bebanan di luar kemampuannya. Apabila mereka membebankan sesuatu di luar kemampuannya, mereka menolongnya.

Kita ingin melihat dari rumahtangga muslim itu satu bentuk yang unik sebagaimana yang telah digariskan oleh Islam tentang berbuat baik di dalam bermuamalah dengan jiran. Mereka menyempurnakan hak jiran sebagaimana peranan Rasulullah s.a.w.

Kita menghendaki rumahtangga muslim yang melahirkan contoh teladan yang baik di segala jurusan hidupnya. Dengan fesyen pakaiannya yang Islami, makanan yang halal, minuman yang halal, akhlak yang mulia, sikapnya yang Islami, gaya yang Islami di segala adat dan tradisi di waktu suka dan duka Mereka menjauhi segala unsur-unsur jahiliah, adat-adat dan tradisi jahiliah yang di import dari luar.

Kita tidak mahu melihat dari golongan sahib-ad-dakwah yang menyeru manusia kepada Allah, yang berjalan di atas jalan dakwah melakukan sebarang kecuaian atau kelalaian di dalam melahirkan serta membina anggota-anggota keluarganya dengan ajaran Islam di dalam sebarang jurusan hidup keluarganya. Sesungguhnya orang yang lemah dalam memimpin rumahtangganya, tidak akan mampu memimpin orang lain apatah lagi rumahtangga orang lain.

I: Rumahtangga Muslim Sebagai Markas Memancarnya Cahaya:

Rumahtangga muslim yang sejati menurut tabiat dan lojiknya mesti menjadi markas dakwah Islam. Setiap anggota keluarga yang aqil baligh wajib menjadi sahibud-dakwah, pendukung dakwah, menyeru rumahtangga dan keluarga di sekitarnya kepada Allah dengan penuh kesabaran, dengan hikmah dan nasihat yang baik.

Isteri yang salihah berkemampuan menarik hati jiran-jiran dengan dakwah kepada Allah. Kehadiran mereka merubah majlis-majlis yang dikuasai oleh umpat mengumpat dan sia-sia menjadi majlis-majlis ilmu dan pelajaran dan ke arah memahami urusan agama.

Bidang dakwah Islamiah sangat memerlukan saudari muslimat yang menyeru manusia kepada Allah, supaya memainkan peranannya di kalangan puteri bangsanya. Sesungguhnya wanita hari ini, kecuali yang telah mendapat taufik Allah, telah dijadikan boneka oleh musuh-musuh Islam untuk meruntuhkan dirinya dan memusnahkan manusia. Tetapi kita hendaklah menjadikannya sebagai wanita yang salihah yang turut bersama kita untuk memperbaiki yang rosak dan membangunkan yang maaruf dan merobohkan yang mungkar dan menghapuskan yang batil menyokong kemuliaan dan memerangi kehinaan.

Kita menghendaki rumahtangga muslim itu sebagai rumah cahaya yang memberi hidayah dan petunjuk kepada orang-orang yang bingung dan sesat di sekitarnya. la menghapuskan, memusnahkan segala kegelapan di sekelilingnya dan menyinari jalannya untuk di lalui oleh mereka. Maka dengan bertambahnya rumah-rumah muslim seperti ini akan sambung menyambunglah daerah-daerah dan bercahaya dan bercantum di antara satu sama lain sehingga mampu menyinari masyarakat.

Maka dengan demikian keperibadian Islam berkemampuan menyinari masyarakat dan memimpin nya di bawah naungan Islam. Lantaran itu kemuliaan mudah dikembang-biakkan dan kejahatan mudah dihapuskan. Baharulah mudah dibentuk dasar dan asas keimanan, yang bersih yang mantap sebagai asas bangunan Islam dan pemerintahan Islam dan seterusnya al-khilafah-al- Islamiah alamiah.

Untuk itu, saudara saudari putera puteri Islam harus dan patut bersungguh-sungguh dan bersegera membangunkan rumahtangga muslim yang misali yang menjadi model Islam yang sejati untuk menjadi contoh teladan kepada generasi baharu. Ini adalah satu langkah yang penting dan asasi di jalan dakwah Islam. Mohonlah pertolongan dari Allah supaya Allah mudahkan dan jangan menyusahkan.

Wabillah hi taufik-wal-hidayah.

Rabu, 16 Juli 2008

Dahsyatnya Syirik


Dahsyatnya Syirik
Kategori: Aqidah

Setiap muslim pasti mengetahui bahwa syirik hukumnya adalah haram. Namun, apakah kita telah mengetahui hakikat syirik serta seberapa besar tingkat keharaman dan bahayanya? Boleh jadi ada yang berkata, “Syirik itu haram, harus ditinggalkan!”, namun dalam kesehariannya justru bergelimang dalam amalan kesyirikan sedangkan ia tidak menyadarinya. Oleh karena itu ada baiknya kita kupas permasalahan ini agar tidak terjadi kerancuan di dalamnya.

Makna Syirik

Alloh memberitakan bahwa tujuan penciptaan kita tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Alloh, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56). Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Alloh baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah disini meliputi do’a, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, istighatsah (minta pertolongan) dan sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan hanya kepada Alloh tidak kepada selain-Nya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala, “Hanya kepadaMu lah kami beribadah dan hanya kepadaMu lah kami minta pertolongan.” (Al Fatihah: 5)

Barangsiapa yang menujukan salah satu ibadah tersebut kepada selain Alloh maka inilah kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik. Misalnya seorang berdo’a kepada orang yang sudah mati, berkurban (menyembelih hewan) untuk jin, takut memakai baju berwarna hijau tatkala pergi ke pantai selatan dengan keyakinan ia pasti akan ditelan ombak akibat kemarahan Nyi Roro Kidul dan sebagainya. Ini semua termasuk kesyirikan dan ia telah menjadikan orang yang sudah mati dan jin itu sebagai sekutu bagi Alloh subhanahu wa ta’ala.

Kedudukan Syirik

Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ta’ala ‘anhu berkata: Aku pernah bertanya kepada Rosululloh , “Dosa apakah yang paling besar di sisi Alloh?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menjadikan sekutu bagi Alloh, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Maka sudah selayaknya bagi kita untuk berhati-hati jangan sampai ibadah kita tercampuri dengan kesyirikan sedikit pun, dengan jalan mempelajari ilmu agama yang benar agar kita mengetahui mana yang termasuk syirik dan mana yang bukan syirik. Hendaklah kita merasa takut terjerumus ke dalam kesyirikan, karena samarnya permasalahan ini sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Wahai umat manusia, takutlah kalian terhadap kesyirikan, karena syirik itu lebih samar dari (jejak) langkah semut.” (HR. Ahmad)

Syirik Menggugurkan Seluruh Amal

Orang yang dalam hidupnya banyak melakukan amal sholeh seperti sholat, puasa, shodaqoh dan lainnya, namun apabila dalam hidupnya ia berbuat syirik akbar dan belum bertaubat sebelum matinya, maka seluruh amalnya akan terhapus. Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika seandainya mereka menyekutukan Alloh, maka sungguh akan hapuslah amal yang telah mereka kerjakan.” (Al- An’am: 88)

Begitu besarnya urusan ini, hingga Alloh Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu Jika kamu mempersekutukan Alloh, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65). Para Nabi saja yang begitu banyak amalan mereka diperingatkan oleh Alloh terhadap bahaya syirik, yang apabila menimpa pada diri mereka maka akan menghapuskan seluruh amalnya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa aman dari bahaya kesyirikan?

Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang menyibukkan diri dalam mempelajari masalah tauhid (lawan dari syirik) dan syirik agar bisa terhindar sejauh-jauhnya, serta merugilah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam masalah-masalah yang lain atau bahkan menghalang-halangi dakwah tauhid!!

Pelaku Syirik Akbar Kekal di Neraka dan Dosanya Tidak Akan Diampuni Oleh Alloh Ta’ala

Alloh Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa’: 48). Juga firman-Nya yang artinya, “Barangsiapa yang mensekutukan Alloh, pasti Alloh haramkan atasnya untuk masuk surga. Dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang dhalim ini seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72).

Orang Musyrik Haram Dinikahi

Hal ini berdasarkan firman Alloh yang artinya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Alloh mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

Sembelihan Orang-Orang Musyrik Haram Dimakan

Alloh Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Alloh ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121)

Begitu besarnya bahaya syirik, maka sudah selayaknya bagi setiap orang untuk takut terjerumus dalam dosa ini yang akan menyebabkan ia merugi di dunia dan di akhirat. Bagaimana mungkin kita tidak takut padahal Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam saja takut terhadap masalah ini? Sampai-sampai beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berdoa supaya dijauhkan dari perbuatan syirik. Beliau mengajarkan sebuah do’a yang artinya, “Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu padahal aku mengetahui bahwa itu syirik. Dan ampunilah aku terhadap dosa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)

Semoga Alloh Ta’ala menjaga kita semua dari kesyirikan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.

***

Penulis: Ibnu Ali Sutopo Yuwono
Artikel www.muslim.or.id